DINAMIKA
GERAKAN MAHASISWA
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Mahasiswa Orang yang terdaftar disalah satu perguruan tinggi.
Apakah sesederhana itu seseorang mendapatkan status mahasiswa ?
Sementara kondisi realitas :
1.
Mahasiswa harapan rakyat
2.
Mahasisa penyambung lidah
rakyat
3.
Mahasiswa manifestasi
Suara Tuhan
4.
Mahasiswa merupakan pilar
demokrasi
Jati diri mahasiswa :
1.
Kritis
2.
Independen
3.
Rasionalis
4.
Idealis
5.
Kreatif
Karakteristik Umum Mahasiswa :
1.
Kutu Buku
2.
Hedonis
3.
Aktifis
Mahasiswa dalam kaca mata Soe Hok Gie
“ Mahasiswa ibarat seorang coboy yang datang jika ada penjahat
dan pergi jika keadaan sudah aman “.
Mahasiswa dalam kaca mata Hariman Siregar :
“ Gerakan mahasiswa adalah gerakan moral (Moral Force) bukan
gerakan politik “.
SEJARAH GERAKAN PEMUDA MAHASISWA
Gelombang
Pertama : 1908
Berdasarkan sejarah, gerakan
kebangkitan nasionalisme Indonesia diawali oleh Boedi Oetomo di tahun 1908,
dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia, sekolahan anak para
priyayi Jawa, di sekolah yang disediakan Belanda di Djakarta.
Tahun dan nama organisasi sebagai
tonggak kebangkitan nasional Indonesia, masih menjadi obyek perdebatan para
ahli sejarah, karena Boedi Oetomo, tidaklah menasional organisasinya, tetapi
hanya melingkupi Jawa saja. Jadi patut dipertanyakan sebagai tonggak
kebangkitan nasional Indonesia.
Para mahasiswa kedokteran di Stovia,
merasa muak dengan para penjajah, --walaupun mereka sekolah di sekolah
penjajah—dengan membuat organisasi yang memberi pelayanan kesehatan kepada
rakyat yang menderita.
Gelombang
Kedua: 1928
Setetah Perang Dunia I, filsafat nasionalisme, mulai
merambat ke negara-negara jajahan
melalui para mahasiswa negara jajahan yang belajar ke negara penjajah. Filsafat
nasionalisme itu banyak mempengaruhi kalangan terpelajar Indonesia, misalnya,
Soepomo ketika merumuskan konsep negara integralistik banyak menyerap pikiran
Hegel. Bahkan, Soepomo terang-terangan mengutip beberapa pemikiran Hegel
tentang prinsip persatuan antara pimpinan dan rakyat dan persatuan dalam negara
seluruhnya. Demikian pula, pada masa ini banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan
yang sarat dengan muatan semangat nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari
Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri, dan sebagainya.
Selain Soepomo, Hatta, Sutan Syahrir pun sudah aktif berdiskusi
tentang masa depan negaranya, ketika mereka masih belajar di benua Eropa, atas
beasiswa politic-etis balas budi-nya penjajah Belanda. Mereka inilah di
masa pra & pascakemerdekaan yang nantinya banyak aktif berkiprah menentukan
arah biduk kapal Indonesia.
Di dalam negeri sendiri, Soekarno sejak remaja, masa
mahasiswanya bahkan setelah lulus kuliahnya, terus aktif menyuarakan tuntutan
kemerdekaan bagi negerinya, lewat organisasi-organisasi yang tumbuh di awal
abad 20. Soekarno menjadi penghuni langganan
penginapan gratis di penjara Sukamiskin dan penjara-penjara yang lainnya.
20 tahun setelah kebangkitan nasional, kesadaran untuk
menyatukan negara, bangsa dan bahasa ke dalam 1 negara, bangsa dan bahasa
Indonesia, telah disadari oleh para pemoeda yang sudah mulai terkotak-kotak
dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan
sebagainya, kemudian diwujudkan secara nyata dengan menggelorakan Sumpah
Pemoeda di tahun 1928.
Gelombang
Ketiga : 1945
Pada nasionalisme gelombang ketiga ini, mahasiswa
dan pemuda menyandra Soekarno-Hatta ke
Rengas-Dengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Kurang dari 20 tahun (hanya
17 tahun), sejak Soempah Pemoeda dikumandangkan, cita-cita mengisi kemerdekaan
mengalami pembelokan implementasi di lapangan, karena Soekarno yang semakin
otoriter.
Akhirnya Soekarno banyak
ditinggalkan oleh para koleganya yang masih memegang idealismenya, dan mencapai
puncak pada saat Hatta, sebagai salah seorang proklamator mengundurkan diri dari
jabatan Wakil Presiden karena tidak kuat menahan diri untuk terus menyetujui
sikap dan tindakan sang Presiden Soekarno.
Pada nasionalisme gelombang ketiga ini, mahasiswa dan pemuda menyandra Soekarno-Hatta ke
Rengas-Dengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Kurang dari 20 tahun (hanya
17 tahun), sejak Soempah Pemoeda dikumandangkan, cita-cita mengisi kemerdekaan
mengalami pembelokan implementasi di lapangan, karena Soekarno yang semakin
otoriter.
Akhirnya Soekarno banyak
ditinggalkan oleh para koleganya yang masih memegang idealismenya, dan mencapai
puncak pada saat Hatta, sebagai salah seorang proklamator mengundurkan diri
dari jabatan Wakil Presiden karena tidak kuat menahan diri untuk terus
menyetujui sikap dan tindakan sang Presiden Soekarno. si di lapangan, karena
Soekarno yang semakin otoriter.
Akhirnya Soekarno banyak
ditinggalkan oleh para koleganya yang masih memegang idealismenya, dan mencapai
puncak pada saat Hatta, sebagai salah seorang proklamator mengundurkan diri dari
jabatan Wakil Presiden karena tidak kuat menahan diri untuk terus menyetujui
sikap dan tindakan sang Presiden Soekarno.
Gelombang
Ke-empat : 1966
Tepat 20 tahun setelah kemerdekaan, terjadi huru-hara pemberontakan
G30S/PKI dan eksesnya. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta
organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak
mungkin bisa ‘merebut’ kekuasaan dari penguasa orde-lama Soekarno.
Tetapi sayang, penguasa Orde
Baru mendepak para pemuda dan mahasiswa yang telah menjadi motor utama
pendorong mobil RI yang mogok, sekaligus penggantian sopir dari Soekarno ke Soerharto. Bahkan sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa dibatasi geraknya dalam berpolitik
dan dikungkung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus lewat NKK/BKK. Sebaliknya
para tentara diguritakan ke dalam tatatan masyarakat sipil lewat dwifungsi
ABRI.
Gelombang
Kelima : 1998
n Bangunan rumah “Negara RI” dapat dijaga
ketat dengan laras senapan ABRI lebih dari 20 tahun, yaitu hingga mencapai 1,5
kali lipatnya menjadi 32 tahun. Tetapi akhirnya goyah, walaupun bukan oleh
gugatan para pemuda dan mahasiswa, tetapi oleh krisis moneter, yang menyingkap
kain penutup “bangunan” negara RI, sehingga menampakkan pilar-pilar
penyangganya yang sudah demikian kropos, digerogoti rayap-rayap gemuk lewat
jejaring KKN.
n Gelombang krismon yang melanda Asia
Tenggara, dimanfaatkan dengan baik oleh para mahasiswa dan pemuda, yang sudah
termarjinalkan lewat laras ABRI, begitu muak melihat kenyataan bangunan RI.
n Gerakan Mahasiswa 98 munculnya bersifat momentum. Di akhir tahun
1997 Indonesia mengalami resesi ekonomi sebagai nakibat dari kewajiban untuk
membayar hutang luar negeri yang sudah mengalami jatuh tempo. Dampak dari
krisis ekonomi di Indonesia yang berkepanjangan ini adalah naiknya harga-harga
sembako. Bulan-bulan berikutnya ditahun 1998 adalah malapetaka bagi rejim Orba.
Tidak seperti yang banyak dibayangkan oleh pakar-pakar politik, perlawanan
massa berkembang sedemikian cepat dan masif di hampir seluruh kota-kota besar
di Indonesia.
n Posko-posko perlawanan sebagai simbol perlawanan terhadap rejim
muncul diberbagai kampus dan dalam kesehariannya posko ini sangat disibukkan
oleh kegiatan-kegiatan yang politis sifatnya seperti rapat-rapat koordinasi, pemutaran
film-filim politik, dll. Tak nampak lagi kultur mahasiswa yang sebelumnya
apatis, hedon, cuek, dll. Hampir di setiap sudut kita dapat menemukan mahasiswa
yang berbicara tentang politik, benar-benar sesuatu yang baru!
Intensitas gerakan ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi obyektif yang semakin tak menentu seperti krisis yang tak kunjung usai, tingkat represi yang semakin meningkat mulai dari penculikan aktivis sampai pada pemukulan dan penembakan mahasiswa yang mencoba turun ke jalan. Puncak dari tindakan represi ini adalah dengan ditembaknya 4 mahasiswa Univ. Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Penembakan ini memicu kemarahan massa rakyat, yang representasinya dilakukan dalam bentuk pengrusakan, penjarahan ataupun pemerkosaan di beberapa tempat di Indonesia. Praktis dalam 2 hari pasca penembakan, Jakarta berada dalam kondisi yanag tidak terkontrol. Mahasiswa kemudian secara serempak menduduki simbol-simbol pemerintahan lembaga legislatif beberapa hari kemudian (18 Mei), yang dilakukan hingga Soeharto mundur.
Intensitas gerakan ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi obyektif yang semakin tak menentu seperti krisis yang tak kunjung usai, tingkat represi yang semakin meningkat mulai dari penculikan aktivis sampai pada pemukulan dan penembakan mahasiswa yang mencoba turun ke jalan. Puncak dari tindakan represi ini adalah dengan ditembaknya 4 mahasiswa Univ. Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Penembakan ini memicu kemarahan massa rakyat, yang representasinya dilakukan dalam bentuk pengrusakan, penjarahan ataupun pemerkosaan di beberapa tempat di Indonesia. Praktis dalam 2 hari pasca penembakan, Jakarta berada dalam kondisi yanag tidak terkontrol. Mahasiswa kemudian secara serempak menduduki simbol-simbol pemerintahan lembaga legislatif beberapa hari kemudian (18 Mei), yang dilakukan hingga Soeharto mundur.
n Bentuk-bentuk perlawanan Organisasi mahasiswa pada saat itu
adalah membentuk komite-komite aksi ditingkatan kampus dan juga mengajak elemen
massa rakyat untuk menuntaskan Rejim Orba.
n Propaganda-propaganda yang dibangun pada awalnya mengangkat isu-isu
ekonomis tentang turunkan harga sembako. Dan meningkat menjadi isu politis
yaitu turunkan Soeharto dan cabut Dwifungsi ABRI (untuk isu ini hanya di
beberapa kota yang tergolong lebih relatif radikal). Slogan aksi pada saat itu
adalah Reformasi. Tapi pada saat itu terjadi perdebatan-perdebatan dikalangan
Gerakan Mahasiswa. Perdebatan itu adalah apakah Gerakan Mahasiswa ini Gerakan
Moral atau Gerakan Politik.
n Tanggal 21 Mei 1998 Gerakan Mahasiswa yang di dukung oleh rakyat
mampu melengserkan Soeharto. Tetapi setelah itu GM seperti kehilangan arah dan merasa puas. Padahal yang justru
menjadi problema rakyat Indonesia pada saat itu belum tersentuh. Di tingkat
Gerakan Mahasiswa yang terjadi justru polarisasi dalam gerakan dan bukannya
tuntasnya agenda-agenda Reformasi atau Revolusi Demokratik.
n Setelah Soeharto dilengserkan yang naik menggantikannya ialah
Habibie yang notabene anak didik Soeharto.
n Sehingga pada tanggal 13 November 1998 pecah peristiwa Semanggi
I. Dimana terjadi pembantaian yang dilakukan aparat keamanan terhadap mahasiswa
dan massa rakyat yang menolak di adakannya Sidang Istimewa MPR.
n Banyak jatuh korban dari pihak mahasiswa dan massa rakyat,
sampai jatuh korban jiwa karena tindakan kekerasan yang diakibatkan pemukulan
dan penembakan yang dilakukan Pasukan PHH pada saat itu.
n Beberapa organisasi mahasiswa dari Jakarta, Bandung, Surabaya,
Jogja, Semarang, Solo dan Purwokerto membentuk organisasi tingkat Nasional yang
diberi nama FONDASI (Front Nasional Untuk Demokrasi) pada tanggal 5 Februari
1999 di Bandung. FONDASI kemudian melibatkan diri melalui anggota-anggotanya
pada tanggal 28 Februari - 5 Maret 1999 diadakan RMNI I di Bali yang dihadiri
oleh 53 organisasi dari seluruh Indonesia. Hasilnya adalah aksi serentak
tanggal 13 April di kota-kota besar Indonesia. Lalu dilanjutkan pada pertemuan
RMNI II di Surabaya yang mengalami jumlah penurunan peserta menjadi 32
organisasi. Namun RMNI I &II tersebut tidak menghasilkan kepemimpinan
nasional gerakan mahasiswa. Perdebatan yang terjadi di RMNI I dan II adalah
mengenai pemerintahan transisi dan cabut dwifungsi ABRI, dan terutama tentang
pengambilan momentum pemilu 7 Juni 1999. Apakah momentum Pemilu 7 Juni ini di
ambil atau tidak. Ada ketakutan jika mengangkat isu boikot pemilu, massa rakyat
pendukung fanatik partai-partai politik akan memukul gerakan mahasiswa. Namun
kenyataannya, hal tersebut tidak terjadi.
n Para pemuda berhasil menjatuhkan Soeharto
dari kursinya. Tetapi sayang, para penggantinya tak dapat menyatukan seluruh
kekuatan bangsa. Bahkan para pengganti Soeharto cenderung lebih parah dalam
menggerogoti pilar-pilar bangunan yang masih tersisa.
n Sementara rakyat Indonesia menuntut kepada
Rezim yang baru naik, yang katanya mendapat legitimasi dari rakyat untuk
menuntaskan agenda-agenda Reformasi total, yang beberapa pointnya yaitu
pemberantasan KKN, pemulihan ekonomi, cabut dwi Fungsi TNI/Polri(ABRI),
Pengadilan Soeharto & kroninya serta sita asset-aset kekayaannya untuk
subsidi kebutuhan rakyat.
Tantangan Masa Depan
1.
Mitos Silkus 20 tahunan
Pergerakan Mahasiswa
2.
Persoalan - persoalan
Bangsa
3.
Aktif dalam mengisi
Pembangunan
Catatan Tentang Gerakan Mahasiswa
§
Belandaskan politik nilai
§
Bergantung pada momentum,
cendrung tidak menciptakan momentum
§
Rentan dan sulit membangun
isyu bersama
§
Tidak memiliki figur
pemersatu
§
Kaya visi miskin strategi,
Parlemen jalanan, Pemenang tanpa trofi.
Formulasi Gerakan
Mahasiswa :
1.
Menangkap Isue aktual dan
relevan
2.
Lakukan Pengkajian Isue
dan Diskusi
3.
Lakukan Riset
4.
Adakan Hearing dengan
pihak berwenang
5.
Parlemen Jalanan
Komentar
Posting Komentar