MISION HMI
Menegaskan Kembali Tujuan, Fungsi dan Peran HMI dalam Dinamika ke-Islaman,
Kemahasiswaan dan ke-Indonesiaan
“ Hai sekalian umat manusia, sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan
kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku ialah agar kamu saling kenal-mengenal…”
(Al-Qur’an, surat Al Hudjurat; 13)
“ Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada
keutamaan, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah yang buruk (munkar),
merekalah orang-orang yang menang (falah)”
(Al-Qur’an, surat Ali Imran; 104)
“HMI adalah organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi perkaderan,
berperan sebagai organisasi perjuangan”
(AD HMI BAB IV, pasal 7, 8 dan 9: tentang status, fungsi dan peran)
“Jangan pernah berhenti mendayung, jika engkau tidak ingin terbawa arus”
(M. Natsir)
“Dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana, yaitu
ber-Iman, ber-Ilmu dan ber-Amal”
(Nurcholis Madjid)
“Hidup adalah ikhlas dalam berfikir dan bertindak, itulah aktualisasi
TAUHID”
(WM)
PENDAHULUAN
Keberadaan HMI adalah keberadaan manifestasi atas gerakan intelektual,
moral dan spiritual di Indonesia. Tentu saja hal tersebut tidak dapat
dilepaskan dari beberapa syarat utama dari kelahiran sekaligus keberadaan HMI
itu sendiri. Sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar
di Indonesia, HMI didirikan bukan tanpa alasan yang jelas dan ideologis. HMI
didirikan berangkat dari kekhawatiran dan kesadaran kritis atas kondisi Islam
dan Indonesia pada waktu itu. Berangkat dari sebuah keyakinan yang diletakkan
sebagai prinsip dasar kesadaran dalam berfikir dan bertindak, yaitu keyakinan
bahwa tidak ada kebenaran selain Islam, yang dimaknai sebagai komitmen terhadap
kebenaran, HMI lahir.
Kini, HMI telah berusia 63 tahun. Usia yang jika dianalogikan sebagai
seorang anak manusia maka telah mengalami dua proses penting, kematangan atau
kedewasaan, dan tua renta yang sangat rentan akan berbagai penyakit. Hari ini,
menjadi penting untuk merevisit atau “mengunjungi” kembali beberapa
syarat keberadaan HMI. Mengapa, dan untuk siapa HMI ada? Itulah yang
akan coba kami sampaikan dalam tulisan sederhana ini, dalam sebuah kerangka
sebagai artikulasi sederhana dari MISI SUCI HMI.
Penting kiranya sebelum memahami lebih lanjut mengenai apa yang menjadi
misi HMI, khususnya jika dikontekstualisasikan dengan masa sekarang, secara
bertahap dilihat perubahan-perubahan di dalam HMI terkait dengan misinya.
Berikut adalah misi HMI yang secara periodik mengalami perubahan. Tentu saja
perubahan misi HMI tersebut tidak bisa hanya dilihat atau dipahami sebatas pada
sisi perubahannya (maksudnya tekstual), namun harus dilihat secara substantif
dengan mengetahui latar belakang dari perubahan tersebut.
1. Tahun 1947 (5 Februari 1947)
Dasar : Islam
Tujuan :
- Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
- Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
2. Tahun 1947 (30 November 1947)
Dasar : Islam
Tujuan :
- Mempertegak dan mengembangkan Agama Islam
- Mempertinggi Derajat Rakyat dan Negara Republik Indonesia.
3. Tahun 1953 (5 Agustus 1953)
Dasar : Islam
Tujuan: kembali kepada Kongres ke-dua.
HMI menyatakan tetap sebagai organisasi yang independent seperti awal
lahirnya dan menyatakan HMI bukan underbouw dari Partai Masyumi.
4. Tahun 1955
Dasar : Islam
Tujuan :
Ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam.
5. Tahun 1966
Dasar : Islam
Tujuan :
Membina Insan Akademis Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam menuju
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
6. Tahun 1969
Dasar : Islam
Tujuan :
Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggung Jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT.
Meskipun sempat mengalami beberapa perubahan secara tekstual, juga secara
isi (maksudnya adalah isi yang kemudian dalam tindakannya meniscayakan skala
prioritas yang berbeda), namun misi HMI tetap berada di atas tiga komitmen yang
juga merupakan ranah gerakan atau ranah pengabdiannya, yaitu Islam, Mahasiswa,
dan Indonesia (atau ke-Islaman, kemahasiswaan, dank e-Indonesiaan). Tentu saja,
seperti telah disebutkan di awal, bahwa perjuangan HMI, secara kontekstual
didasarkan atas situasi dan kondisi yang ada. Dulu musuh HMI sangat jelas,
yaitu penjajahan dan PKI .Untuk konteks sekarang, dengan misi yang secara jelas
tertulis di dalam lembaran hasil-hasil kongres, apa yang bisa dilakukan
oleh HMI? Apakah hal itu masih relevan dengan kebutuhan Umat Islam, mahasiswa
dan masyarakat Indonesia? Jika memang masih relevan, apakah HMI kini telah
menjalankan misi tersebut dengan sungguh-sungguh? Atau malah HMI sibuk
bertengkar di dalam memperdebatkan dan berebut sesuatu yang sangat pragmatis dan
tidak jelas? Sehingga secara perlahan HMI mengalami kemunduran, tidak dikenal
masyarakat karena tidak berbuat apa-apaa untuk mereka, hingga selanjutnya mati…
Kesemuanya itu adalah pilihan dan keputusan HMI, bukan orang lain, apalagi
Negara!!!
MEMBACA KEMBALI MISI HMI KINI
Dalam salah satu pikirannya, Nurcholis Madjid pernah menuliskan, “dengan
demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhanaa, yaitu beriman, berilmu,
dan beramal”. Maksud saya adalah bahwa misi HMI itu sangat suci dan berat,
memang tidak sesederhana dari apa yang selama ini dilakukan oleh HMI. Bahwa
misi HMI dibangun di atas alasan sangat transendental dan teologis, kemudian
harus ditopang oleh keilmuan yang cukup, dan semuanya (dari mulai niat untuk
berfikir hingga pelaksanaan tindakan) diletakkan sebagai suatu amal yang LIMARDHATILLAH,
bukan yang lain.
Jika memang demikian, kemudian apa yang yang harus dilakukan oleh HMI kini
dan ke depan? Sehingga HMI masih memenuhi syarat keberadannya. Secara tersurat,
di dalam lembaran-lembaran hasil-hasil kongres telah dijelaskan mengenai baik
status, fungsi, peran, misi, maupun tujuan. Harapannya adalah bahwa
lembaran-lembaran tersebut jangan hanya digunakan kalau hanya dibutuhkan,
terlebih demi kepentingan tertentu. Namun lembaran-lembaran konstitusi HMI
tersebut harus selalu dijadikan sebagai salah satu dasar dalam berorganisasi
dan berjuang di HMI, sebagai landasan operasional. Di manapun dan kapanpun
serta terhadap siapapun selama identitas KADER HMI melekat pada dirinya.
Selanjutnya, marilah kita melihat sejenak beberapa bagian dari Anggaran
Dasar HMI (AD HMI), yang di dalamnya memuat tujuan dan usaha yang mesti
dilakukan oleh HMI dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
Saduran I:
BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT
Pasal 1
Nama
Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI
Pasal 2
Waktu dan Tempat kedudukan
HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awwal 1366 H bertepatan
dengan tanggal 5 Pebruari 1947 untuk waktu yang tidak ditentukan dan
berkedudukan di tempat Pengurus Besar
BAB II
AZAS
AZAS
Pasal 3
HMI berazas Islam
BAB III
TUJUAN, USAHA DAN SIFAT
TUJUAN, USAHA DAN SIFAT
Pasal 4
Tujuan
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah
Subhanahu Wata ’ala.
Pasal 5
Usaha
- a. Membina pribadi muslim untuk mencapai akhlaqul karimah.
- b. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
- c. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan ummat manusia.
- d. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan Dinnul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
- e. Memperkuat ukhuwah Islamiyah sesama Umat Islam sedunia.
- f. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional
- g. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan huruf (a) s.d. (e) dan sesuai dengan azas, fungsi, dan peran organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan organisasi.
Pasal 6
Sifat
HMI bersifat independen
BAB IV
STATUS FUNGSI DAN PERAN
Pasal 7
Status
HMI adalah organisasi mahasiswa
Pasal 8
Fungsi
HMI berfungsi sebagai organisasi kader
Pasal 9
Peran
HMI berperan sebagai organisasi perjuangan
Saduran II:
(mengenai beberapa tafsir penjelasan AD HMI)
TENTANG ISLAM SEBAGAI AZAS HMI
“Hari ini telah Kusempurnakan bagi kamu agamamu, dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu: (QS.
Al-Maidah : 3).
“Dan mereka yang berjuang dijalan-Ku (kebenaran), maka pasti Aku
tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada
orang-orang yang selalu berbuat (progresif) (QS. Al-Ankabut : 69).
Islam sebagai ajaran yang haq dan sempurna hadir di bumi diperuntukkan
untuk mengatur pola hidup manusia agar sesuai fitrah kemanusiaannya yakni
sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata ke
hadirat-Nya.
Iradat Allah Subhanu Wata’ala, kesempurnaan hidup terukur dari personality
manusia yang integratif antara dimensi dunia dan ukhrawi, individu dan sosial,
serta iman, ilmu dan amal yang semuanya mengarah terciptanya kemaslahatan hidup
di dunia baik secara induvidual maupun kolektif.
Secara normatif Islam tidak sekedar agama ritual yang cenderung individual
akan tetapi merupakan suatu tata nilai yang mempunyai komunitas dengan
kesadaran kolektif yang memuat pemaham/kesadaran, kepentingan, struktur
dan pola aksi bersama demi tujuan-tujuan politik.
Substansi pada dimensi kemasyarakatan, agama memberikan spirit pada
pembentukan moral dan etika. Islam yang menetapkan Tuhan dari segala tujuan
menyiratkan perlunya peniru etika ke Tuhanan yang meliputi sikap rahmat (Pengasih),
barr (Pemula), ghafur (Pemaaaf), rahim (Penyayang) dan
(Ihsan) berbuat baik. Totalitas dari etika tersebut menjadi kerangka
pembentukan manusia yang kafah (tidak boleh mendua) antara aspek ritual
dengan aspek kemasyarakatan (politik, ekonomi dan sosial budaya).
Adanya kecenderungan bahwa peran kebangsaan Islam mengalami marginalisasi
dan tidak mempunyai peran yang signifikan dalam mendesain bangsa merupakan
implikasi dari proses yang ambigiutas dan distorsif. Fenomena ini ditandai
dengan terjadinya mutual understanding antara Islam sebagai agama dan Pancasila
sebagai ideologi. Penempatan posisi yang antagonis sering terjadi karena
berbagai kepentingan politik penguasa dari politisi-politisi yang mengalami
split personality.
Kelahiran HMI dari rahim pergolakan revolusi phisik bangsa pada tanggal 5
Februari 1974 didasari pada semangat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islaman
dalam berbagai aspek ke Indonesian.
Semangat nilai yang menjadi embrio lahirnya komunitas Islam sebagai
interest group (kelompok kepentingan) dan pressure group (kelompok
penekanan). Dari sisi kepentingan sasaran yang hendak diwujudkan adalah
terutangnya nilai-nilai tersebut secara normatif pada setiap level
kemasyarakatan, sedangkan pada posisi penekan adalah keinginan sebagai pejuang
Tuhan (sabilillah) dan pembelaan mustadh’afin.
Proses internalisasi dalam HMI yang sangat beragam dan suasana interaksi
yang sangat plural menyebabkan timbulnya berbagai dinamika ke-Islaman dan
ke-Indonesiaan dengan didasari rasionalisasi menurut subyek dan waktunya.
Pada tahun 1955 pola interaksi politik didominasi pertarungan ideologis
antara nasionalis, komunis dan agama (Islam). Keperluan sejarah (historical
necessity) memberikan spirit proses ideologisasi organisasi. Eksternalisasi
yang muncul adalah kepercayaan diri organisasi untuk “bertarung” dengan
komunitas lain yang mencapai titik kulminasinya pada tahun 1965.
Seiring dengan kreatifitas intelektual pada Kader HMI yang menjadi ujung
tombak pembaharuan pemikiran Islam dan proses transformasi politik bangsa yang
membutuhkan suatu perekat serta ditopang akan kesadaran sebuah tanggung jawab
kebangsaan, maka pada Kongres ke-X HMI di Palembang, tanggal 10 Oktober 1971
terjadilah proses justifikasi Pancasila dalam mukadimah Anggaran Dasar.
Orientasi aktifitas HMI yang merupakan penjabaran dari tujuan organisasi
menganjurkan terjadinya proses adaptasi pada jamannya. Keyakinan Pancasila
sebagai keyakinan ideologi negara pada kenyataannya mengalami proses stagnasi.
Hal ini memberikan tuntutan strategi baru bagi lahirnya metodologi aplikasi
Pancasila. Normatisasi Pancasila dalam setiap kerangka dasar organisasi menjadi
suatu keharusan agar mampu mensuport bagi setiap institusi kemasyarakatan dalam
mengimplementasikan tata nilai Pancasila.
Konsekuensi yang dilakukan HMI adalah ditetapkannya Islam sebagai identitas
yang mensubordinasi Pancasila sebagai azas pada Kongres XVI di Padang, Maret
1986.
Islam yang senantiasa memberikan energi perubahan mengharuskan para
penganutnya untuk melakukan invonasi, internalisasi, eksternalisasi maupun
obyektifikasi. Dan yang paling fundamental peningkatan gradasi umat diukur dari
kualitas keimanan yang datang dari kesadaran paling dalam bukan dari pengaruh
eksternal. Perubahan bagi HMI merupakan suatu keharusan, dengan semakin
meningkatnya keyakinan akan Islam sebagai landasan teologis dalam berinteraksi
secara vertikal maupun horizontal, maka pemilihan Islam sebagai azas merupakan
pilihan dasar dan bukan implikasi dari sebuah dinamika kebangsaan.
Demi tercapainya idealisme ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, maka HMI bertekad
Islam dijadikan sebagai doktrin yang mengarahkan pada peradaban secara
integralistik, trasedental, humanis dan inklusif. Dengan demikian kader-kader
HMI harus berani menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta
prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan keyakinan dan mendorong
terciptanya penghargaan Islam sebagai sumber kebenaran yang paling hakiki dan
menyerahkan semua demi ridho-Nya.
TAFSIR TUJUAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENDAHULUAN
Tujuan yang jelas diperlukan untuk suatu organisasi, hingga setiap usaha
yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur.
Bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu motivasi dasar
pembentukan, status dan fungsinga dalam totalitas dimana ia berada. Dalam
totalitas kehidupan bangsa Indonesia, maka HMI adalah organisasi yang
menjadikan Islam sebagai sumber nilai. Motivasi dan inspirasi bahwa HMI
berstatus sebagai organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi kader dan
yang berperan sebagai organisasi perjuangan serta bersifat independen.
Pemantapan fungsi kekaderan HMI ditambah dengan kenyataan bahwa bangsa
Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan
hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan
ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual
yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang paling
mendasar.
Atas faktor tersebut, maka HMI menetapkan tujuannya sebagaimana
dirumuskan dalam pasal 4. AD ART HMI yaitu :
“TERBINANYA INSAN AKADEMIS, PENCIPTA, PENGABDI YANG BERNAFASKAN ISLAM DAN
BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR YANG DIRIDHOI ALLAH
SWT”.
Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HMI bukanlah
organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara
kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan
potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk
mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.
MOTIVASI DASAR KELAHIRAN DAN TUJUAN ORGANISASI
Sesungghnya Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai agama yang
Haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan
fitrahnya sebagai Khalifatullah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri
semata-mata kehadiratnya.
Kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia tersebut adalah kehidupan yang
seimbang dan terpadu antara pemenuhan dan kalbu, iman dan ilmu, dalam
mencapai kebaha giaan hidup di dunia dan ukhrowi. Atas keyakinan ini,
maka HMI menjadikan Islam selain sebagai motivasi dasar kelahiran juga
sebagai sumber nilai, motivasi dan inpirasi. Dengan demikian Islam bagi
HMI merupakan pijakan dalam menetapkan tujuan dari usaha organisasi HMI.
Dasar Motivasi yang paling dalam bagi HMI adalah ajaran Islam. Karena Islam
adalah ajaran fitrah, maka pada dasarnya tujuan dan mission Islam adalah
juga merupakan tujuan daripada kehidupan manusia yang fitri, yaitu tunduk
kepada fitrah kemanusiaannya.
Tujuan kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin adanya
kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan kata lain
kesejahteraan materiil dan kesejahteraan spirituil.
Kesejahteraan yang akan terwujud dengan adanya amal saleh (kerja
kemanusiaan) yang dilandasi dan dibarengi dengan keimanan yang benar. Dalam
amal kemanusiaan inilah manusia akan dapat kebahagian dan kehidupan yang
sebaik-baiknya. Bentuk kehidupan yang ideal secara sederhana kita
rumuskan dengan “kehidupan yang adil dan makmur”.
Untuk menciptakaan kehidupan yang demikian. Anggaran dasar menegaskan kesadaran
mahasiswa Islam Indonesia untuk merealisasikan nilai-nilai
Ketuhanan Yang Maha Easa, Kemanusian Yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Dalam
Kebijaksanaan/Perwakilan serta mewujudkan Keadilan Bagi Seluruh Indonesia dalam
rangka mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Perwujudan daripada pelaksanaan nilai-nilai tersebut adalah
berupa amal saleh atau kerja kemanusiaan. Dan kerja kemanusiaan ini akan
terlaksana secara benar dan sempurna apabila dibekali dan didasari oleh iman
dan ilmu pengatahuan. Karena inilah hakekat tujuan HMI tidak lain adalah
pembentukan manusia yang beriman dan berilmu serta mampu menunaikan tugas kerja
kemanusiaan (amal saleh). Pengabdian dan bentuk amal saleh inilah pada
hakekatnya tujuan hidup manusia, sebab dengan melalui kerja kemanusiaan,
manusia mendapatkan kebahagiaan.
BASIC DEMAND BANGSA INDONESIA
Sesunguhnya kelahiran HMI dengan rumusan tujuan seperti pasal 4 Anggaran
Dasar tersebut adalah dalam rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan dasar
(basic need) bangsa Indonesia setelah mendapat kemerdekaan pada tanggal
17 Agustus 1945 guna memformulasikan dan merealisasikan cita-cita
hidupnya. Untuk memahami kebutuhan dan tuntutan tersebut maka kita perlu
melihat dan memahami keadaan masa lalu dan kini. Sejarah Indonesia dapat kita
bagi dalam 3 (tiga) periode yaitu:
a) Periode (Masa) Penjajahan
Penjajahan pada dasarnya adalah perbudakaan. Sebagai bangsa terjajah
sebenarnya bangsa Indonesia pada waktu itu telah kehilangan kemauan dan kemerdekaan
sebagai hak asasinya. Idealisme dan tuntutan bangsa Indonesia pada waktu itu
adalah kemerdekaan. Oleh karena itu timbullah pergerakan nasional dimana
pimpinan-pimpinan yang dibutuhkan adalah mereka yang mampu menyadarkan hak-hak
asasinya sebagai suatu bangsa.
b). Periode (Masa) Revolusi
Periode ini adalah masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa serta didoorong oleh keinginan yang
luhur maka bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus
1945. Dalam periode ini yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia adalah adanya
persatuan solidaritas dalam bentuk mobilitas kekuatan fisik guna melawan dan
menghancurkan penjajah. Untuk itu dibutuhkan adalah “solidarity making” diantara
seluruh kekuatan nasional sehingga dibutuhkan adanya pimpinan nasional tipe solidarity
maker.
c) Periode (Masa) Membangun
Setelah Indonesia merdeka dan kemerdekaan itu mantap berada ditangannya
maka timbullah cita-cita dan idealisme sebagai manusia yang bebas dapat direalisir
dan diwujudkan. Karena periode ini adalah periode pengisian kemerdekaan, yaitu
guna menciptakan masyarakat atau kehidupan yang adil dan makmur. Maka mulailah
pembangunan nasional. Untuk melaksanakan pembangunan, faktor yang sangat
diperlukan adalah ilmu pengetahuan.
Pimpinan nasional yang dibutuhkan adalah negarawan yang “problem solver”
yaitu tipe “administrator” disamping ilmu pengetahuan diperlukan pula
adanya iman/akhlak sehingga mereka mampu melaksanakan tugas kerja
kemanusiaan (amal saleh). Manusia yang demikian mempunyai garansi yang
obyektif untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke dalam suatu kehidupan yang
sejahtera adil dan makmur serta kebahagiaan. Secara keseluruhan basic demand
bangsa Indonesia adalah terwujudnya bangsa yang merdeka, bersatu dan
berdaulat, menghargai HAM, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
dengan tegas tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 dalam alinea kedua.
Tujuan 1 dan 2 secara formal telah kita capai tetapi tujuan ke-3
sekarang sedang kita perjuangkan. Suatu masyarakat atau kehidupan yang adil dan
makmur hanya akan ter bina dan terwujud dalam suatu pembaharuan dan
pembangunan terus menerus yang dilakukan oleh manusia-manusia yang beriman,
berilmu pengetahuan dan berkepribadian, dengan mengembangkan nilai-nilai kepribadian
bangsa.
KUALITAS INSAN CITA HMI
Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh
HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu
pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut
sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 5 AD HMI) adalah sebagai
berikut :
1. Kualitas Insan Akademis
- Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
- Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
- Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.
2. Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta
- sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
- Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.
- Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
3. Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta,
Pengabdi
- Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
- Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik.
- Insan akdemis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.
4. Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan
Akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam
- Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
- Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim. Kualitas insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat
adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT :
- Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
- Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
- Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
- Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
- Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
- Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “man of future”
insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh,
bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang
menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara
kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal tipe dari hasil
perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu).
Penyuara “idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu,
kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah
SWT. Mereka itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu
beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)
Dari lima kualitas insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami dalam
tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta
dan kualitas insan pengabdi. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut merupakan
insan islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.
TUGAS ANGGOTA HMI
Setiap anggota HMI berkewajiban berusaha mendekatkan kualitas dirinya pada
kualitas insan cita HMI seperti tersebut diatas. Tetapi juga sebaliknya HMI
berkewajiban untuk memberikan pimpinan-pimpinan, bimbingan dan kondusif bagi
perkembangan potensi kualitas pribadi-pribadi anggota-anggota dengan memberikan
fasilitas-fasilitas dan kesempatan-kesempatan. Untuk setiap anggota HMI harus
mengembangkan sikap mental pada dirinya yang independen untuk itu :
- Senantiasa memperdalam hidup kerohanian agar menjadi luhur dan bertaqwa kepada Allah SWT.
- Selalu tidak puas dan selalu mencari kebenaran
- Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional menghadapi pendirian yang berbeda.
- Bersifat kritis dan berpikir bebas kreatif
- Hal tersebut akan diperoleh antara lain dengan jalan:
v
Senantiasa mempertinggi tingkat
pemahaman ajaran Islam yang dimilikinya dengan penuh gairah.
v
Aktif berstudi dalam Fakultas yang
dipilihnya.
v
Mengadakan tentir club untuk studi
ilmu jurusannya dan club studi untuk masalah kesejahteraan dan kenegaraan
v
Salalu hadir dalam forum ilmiah
v
Memelihara kesehatan badan dan
aktif mengikuti karya bidang kebudayaan
v
Selalu berusaha mengamalkan dan
aktif dalam memngambil peran dalam kegiatan HMI
v
Mengadakan kalaqah-kalaqah
perkaderan dimasjid-masjid kampus
Bahwa tujuan HMI sebagai dirumuskan dalam pasal AD HMI pada hakikatnya
adalah merupakan tujuan dalam setiap Anggota HMI. Insan cita HMI adalah
gambaran masa depan HMI. Suksesnya seorang HMI dalam membina dirinya untuk
mencapai Insan Cita HMI berarti dia telah mencapai tujuan HMI.
Insan cita HMI pada suatu waktu akan merupakan “Intelektual community”
atau kelompok intelegensi yang mampu merealisasi cita-cita umat dan bangsa
dalam suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera spritual adil dan makmur serta
bahagia (masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT).
Melalui beberapa penggalan Anggaran Dasar HMI (AD HMI) serta beberapa
memori penjelasannya, khususnya tentang Islam sebagai azas HMI dan tujuan serta
beberapa usaha yang harus dilakukan untuk mewujudkan tujuan HMI, yang diambil
dari hasil-hasil kongres di atas, setelah kita lihat lebih ke dalam, maka kita
akan menemukan jawaban atas pertanyaan apa yang menjadi misi HMI kini dan ke
depan, kemudian mengenai relevansi dan kontekstualitasnya. Atau lebih
sederhananya pertanyaan tentang mengapa dan untuk siapa sebenarnya HMI
ada?
HMI MENJAWAB TANTANGAN JAMAN
Beberapa hal yang harus dilakukan oleh HMI adalah; Pertama,
HMI harus meletakkan kemudian memantapkan kembali ideologinya sebagai basis
nilai gerakannya demi mewujudkan tujuannya. Kedua, HMI harus
mampu merumuskan metodologi gerakan yang relevan sehingga efektif. Ketiga,
untuk dapat membumikan ide dan ruh perjuangan HMI, maka HMI harus
diartikulasikan ulang melalui objektifikasi. Keempat, HMI tetap harus bersikap
terbuka dan oto-kritik (mengkritik dan dikritik, inklusifisme positif). Karena
dengan itulah HMI tetap sebagai agent of change dan agent of social
control. HMI bukan partai politik, juga bukan LSM, oleh karena itu dalam
setiap aktifitas berfikir serta gerakannya harus meletakkan PERKADERAN
dan PERJUANGAN tetap sebagai misinya, sebagai fungsi dan perannya,
sebagai jiwa gerakan.
Sebagai organisasi mahasiswa Islam, HMI harus tetap mampu menjaga
keseimbangan antara intelektual (akademik) dan gerakan sosial (aktivisme), yang
ditopang oleh basis moral dan spiritual. Ke depan gerakan HMI adalah gerakan
Intelektual-Moral-Spiritual (INTERAL). Sebab tiga hal itulah yang juga
melatarbelakangi berdirinya HMI, sekaligus sebagai ruh perkaderan dan
perjuangan HMI dulu, kini, dan esok. HMI ke depan harus meletakkan identitas
dirinya sebagai Intelektual-Aktifis, atau Scholar Activist.
PENUTUP
Selamat datang di HMI, selamat berjuang bersama kami, semoga apa yang kita
fikirkan nanti, juga apa yang menjadi tindakan kita, tetap semata-mata hanya
demi mendapatkan ridhlo dari Allah SWT, Amin. Terakhir, mengutip M. Natsir, “Jangan
pernah berhenti mendayung, jika engkau tidak ingin terbawa arus”. Tetap
selalu ikhlas dalam berfikir dan bertindak, dengan demikian tugas hidup
manusia menjadi sangat sederhana, yaitu beriman, berilmu dan beramal.
Selamat berjuang, go ahead HMI. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
WM.
Komentar
Posting Komentar